Monday, December 22, 2008

At Large Young people as do-gooders

By Rina Jimenez-David
Philippine Daily Inquirer

Filed Under: Awards and Prizes, Youth

A “medical” film festival, a community lending program that starts with members saving money in piggy banks. or “alkansya,” a tutorial program where college students teach public school teachers computer skills, a de-worming campaign that involves the painting of a school mural as a reminder to the children to follow good hygiene practices, and a reproductive health program for teens that uses theater as an educational tool. These are just some of the winning projects of finalists in the Sixth TAYO Awards, or Ten Accomplished Youth Organizations Awards. Judging took place Monday and as one of the jurors, I must say that the “stories” told that day convinced me that the future of the country lies not in our national institutions and leaders, but in the efforts of young people who are doing what they can—despite their youth and scarce resources—to change the world they live in.

For some, the world may be as narrow as the school campus, a world populated by students, teachers and non-teaching personnel, but where even small changes can have a major impact. For others, the borders may expand to encompass communities or villages, or even cities and provinces, where the challenges are more difficult but the will to make a difference remains.

But good will or good intentions are not enough. To succeed, and more importantly, to be sustainable, a project has to be evaluated in relation to the goals it set out at the start, whether it addressed the identified problem, missed it entirely or made it worse. And for these, project proponents need what has been called “measurable targets.”

* * *

Among the observations made by the judges was the need to integrate “indicators,” or means of measuring success, from the very start of a project’s conception. Indicators are important because they tell you if you are accomplishing your goals or merely going around in circles. They also need to be measured somewhere or some time in the middle of the project’s existence, while there is still time to correct mistakes or turn the project in another direction.

The young champions, when asked how they knew that they had succeeded, cited feedback from the beneficiaries, or from the group members. While useful for documentation purposes, personal feedback is not really all that reliable. A project has to be measured in terms of goals and accomplishments. For instance, what percentage of residents in a village did you set out to provide with health services? If your aim was to reach and treat at least 50 percent of residents, but some months later you find out that you were reaching only 20 percent, then you will need to either raise your efficiency levels or re-think your approach to the target population.

Indicators of success are not so difficult to integrate in your plan. To measure the impact of a stage presentation, for instance, all you need to do is hand out a form asking the audience what they knew about, say, reproductive health issues before the start of the presentation. Afterwards, ask the same audience to fill out a similar form, and by comparing their responses, you can measure whether their awareness was raised.

* * *

Being able to measure one’s accomplishments is useful not just for project retooling, but also for future fundraising. It is not enough to simply claim your project made a difference. Funders, particularly multinational institutions, will demand concrete measures and accomplishments, and these you can present only if you had integrated a monitoring and assessment tool from the very start of a project.

Some may ask: Are indicators of success really all that necessary for youth projects? My thinking is that if young people are serious about getting involved in social issues and do-gooding, then it is best that they start off on the right foot. Good intentions are not enough. One must take a careful, pragmatic approach, being clear-headed about one’s goals and realistic about one’s limitations in terms of resources and time. And if one is working with grant money, all the more that one should be very clear about one’s goals and mapping out one’s path towards meeting those goals. After all, you have been entrusted with other people’s money, money that was meant to alleviate poverty and save lives. It would be a tragedy if that money was frittered away in useless projects—projects initiated with all sincerity and goodwill, but ultimately still failing to make a positive difference in the lives of people in need.

* * *

Still, the fun may be in the learning for all the youth organizations who took part in the TAYO Awards.

Each year brings a crop of groups who bring not just their energy, but their creativity and heart to their projects. True, some projects may have been embarked on only for the recognition. But one can smell such projects from the get-go.

As a judge, what I was looking for was focus, in a specific area or concern. Which is why, for instance, I immediately liked the computer tutorial project of the computer students of Jose Rizal University. By focusing on the need to impart computer skills to public grade school teachers in four schools in Mandaluyong City, they ensured that they would easily accomplish their goals, and success was measurable by the improved skills of the teachers they worked with, as well as by the greater efficiency in these schools. The project also proved tremendously replicable.

The “medical film festival” of a medical student fraternity in the University of the Philippines, Manila, was likewise focused, but what it had going for it also was the “outside-the-box” thinking employed. As Bong Osorio, of ABS-CBN Broadcasting and also a judge, remarked, “It’s such a non-medical approach to health education.”

Generasi Technopreneurship Di Era Informasi

Real Skills for the Real World

Globalisasi ekonomi dan era informasi mendorong industri menggunakan sumber daya manusia lulusan perguruan tinggi yang kompeten dan memiliki jiwa kewirausahaan. Akan tetapi tidak setiap lulusan perguruan tinggi memiliki jiwa kewirausahaan seperti yang diinginkan oleh lapangan kerja tersebut. Kenyataan menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil lulusan perguruan tinggi yang memiliki jiwa kewirausahaan. Di sisi lain, krisis ekonomi menyebabkan jumlah lapangan kerja tidak tumbuh, dan bahkan berkurang karena bangkrut. Dalam kondisi seperti ini, maka lulusan perguruan tinggi dituntut untuk tidak hanya mampu berperan sebagai pencari kerja tetapi juga harus mampu berperan sebagai pencipta kerja. Keduanya memerlukan jiwa kewirausahaan. Oleh karena itu, agar supaya perguruan tinggi mampu memenuhi tuntutan tersebut, berbagai inovasi diperlukan diantaranya adalah inovasi pembelajaran dalam membangun generasi technopreneurship di era informasi sekarang ini.

Ada suatu pendapat bahwa, saat ini sebagian besar lulusan perguruan tinggi di Indonesia masih lemah jiwa kewirausahaannya. Sedangkan sebagian kecil yang telah memiliki jiwa kewirausahaan, umumnya karena berasal dari keluarga pengusaha atau dagang. Dalam kenyataan menunjukkan bahwa kewirausahaan adalah merupakan jiwa yang bisa dipelajari dan diajarkan. Seseorang yang memiliki jiwa kewirausahaan umumnya memiliki potensi menjadi pengusaha tetapi bukan jaminan menjadi pengusaha, dan pengusaha umumnya memiliki jiwa kewirausahaan. Proses pembelajaran yang merupakan inkubator bisnis berbasis teknologi ini dirancang sebagai usaha untuk mensinergikan teori (20%) dan Praktek (80%) dari berbagai kompetensi bidang ilmu yang diperoleh dalam bidang teknologi & industri. Inkubator bisnis ini dijadikan sebagai pusat kegiatan pembelajaran dengan atmosfir bisnis yang kondusif serta didukung oleh fasilitas laboratorium yang memadai.

Tujuan implementasi inovasi dari kegiatan inkubator bisnis berbasis teknologi ini adalah menumbuh kembangkan jiwa kewirausahaan bagi mahasiswa sebagai peserta didik. Sedangkan manfaat yang diperoleh bagi institusi adalah tercapainya misi institusi dalam membangun generasi technopreneurship dan meningkatnya relevansi antara dunia pendidikan dengan dunia industri. Sedangkan manfaat bagi mitra kerja adalah terjalinnya kerja sama bisnis dan edukasi. Kerjasama ini dikembangkan dalam bentuk bisnis riil produk sejenis yang memiliki potensi ekonomi pasar yang cukup tinggi.

Proses globalisasi yang sedang terjadi saat ini, menuntut perubahan perekonomian Indonesia dari resourced based ke knowledge based. Resource based yang mengandalkan kekayaan dan keragaman sumber daya alam umumnya menghasilkan komoditi dasar dengan nilai tambah yang kecil. Salah satu kunci penciptaan knowledge based economy adalah adanya technology entrepreneurs atau disingkat techno-preneur yang merintis bisnis baru dengan mengandalkan pada inovasi. Hightech business merupakan contoh klasik bisnis yang dirintis oleh technopreneurs.

Bisnis teknologi dunia saat ini didominasi oleh sektor teknologi informasi, bioteknologi dan material baru serta berbagai pengembangan usaha yang berbasiskan inovasi teknologi. Bisnis teknologi dikembangkan dengan adanya sinergi antara teknopreneur sebagai pengagas bisnis, Perguruan Tinggi dan lembaga penelitian sebagai pusat inovasi teknologi baru, serta perusahaan modal ventura yang memiliki kompetensi dalam pendanaan.

Jumlah usaha kecil menengah berbasis teknologi (UKMT) di Indonesia berkembang dengan pesat. Kecenderungan peningkatan ini lebih didorong oleh terbatasnya peluang kerja di industri-industri besar karena pengaruh krisis ekonomi dan mulai munculnya technopreneurship di kalangan lulusan pendidikan tinggi teknik.

Dalam menghadapi era globalisasi, persaingan akan semakin ketat, sehingga sangat dibutuhkan kebijakan-kebijakan dan aktivitas-aktivitas secara langsung yang dapat meningkatkan daya saing UKMT di kemudian hari. Kesulitan dan hambatan pada UKMT di Indonesia dalam mengembangkan usahanya adalah lemahnya jalur pemasaran, dukungan teknologi dan terbatasnya permodalan. Terlebih lagi, bagi pengusaha pemula, masalah ini akan terlihat lebih besar dan menjadi kendala cukup besar dalam mengembangkan usahanya.

Sampai saat ini belum banyak institusi pemerintah maupun swasta yang dapat memberikan dukungan secara langsung untuk pengembangan UKMT khususnya bagi pengusaha pemula. Sehingga sangat dibutuhkan suatu wadah yang dapat memberikan dukungan langsung berupa fasilitas-fasilitas yang dapat membantu UKMT khususnya membantu pengusaha pemula dalam melaksanakan dan mengembangkan usahanya.

Dalam rangka turut serta membantu dan mendukung secara langsung kegiatan UKMT khususnya kegiatan pengusaha pemula, maka dipandang sangat perlu untuk dapat membangun suatu wadah yang memiliki fasilitas yang dapat mendukung secara langsung kegiatan operasional, promosi, pemasaran, konsultasi teknologi produksi, investasi dan permodalan. Dengan adanya fasilitas-fasilitas tersebut, diharapkan UKMT khususnya pengusaha pemula di Indonesia dapat mengembangkan usahanya lebih cepat dan terarah.

Menatap masa depan berarti mempersiapkan generasi muda yang memiliki kecintaan terhadap pembelajaran dan merupakan terapi kesehatan jiwa bagi anak bangsa, semoga munculnya generasi technopreneurship dapat memberikan solusi atas permasalahan jumlah pengangguran intelektual yang ada saat ini. Selain itu juga bisa menjadi arena untuk meningkatkan kualitas SDM dalam penguasaan IPTEK, sehingga kita bisa mempersiapkan tenaga handal ditengah kompetisi global. mulailah dari diri sendiri untuk berbuat sesuatu guna menciptakan pendidikan kita bisa lebih baik dan berkualitas, karena ini akan menyangkut masa depan anak-anak kita dan juga Bangsa Indonesia.

Wednesday, December 17, 2008

Membuat Foto Berbasis Text

Main-main dengan foto lagi ah… sekarang kita coba buat foto dengan dasar Text. langsung aja nih juragan..

Buat dokumen baru seperti dibawah :

Buat tulisan pake warna putih .. cara nya klik Type tool terus klik di ujung kiri atas lalu DRAG sampe ujung kanan bawah.. sehingga nanti terbentuk kotak.. fungsi kotak itu buat lingkup text nya supaya gak keluar. ketik apa aja deh.. mau ketik ” ini budi, ini ibu budi, wati kakak budi, iwan adik budi” juga boleh.. hehehe.. masih inget kan pelajaran SD ?

Klik kanan layer text > klik rasterize. Tekan CTRL + E untuk menggabungkan dengan background

Sekarang buka file foto yang mau dibuat text. Saya pake foto … ehem.. Istri saya nih.. Cantik kan ? ya iya lah.. hehehe.. kalo udah dibuka CROP sebesar file text tadi yaitu 400 px X 400 px dan resolusi 72.

Klik Layer>New adjustment Layer>posterize

lalu tekan CTRL+SHIFT+U atau KLIK image > adjustment >desaturate untuk menjadikan foto jadi hitam putih.. ( jangan lupa layer masih di background.)

Pindah lagi ke file gambar text tadi lalu klik :Layer > duplicate layer pilih destination file foto tadi yaa..

Sekarang posisi di layar layer begini :

Hide layer text nya.. lalu klik layer background. Klik Select > Color Range . Setting seperti dibawah :

klik Ok..

Nyakalan lagi layer text nya dan tekan tombol DELETE.

Hasil akhirnya kayak gini :

Cobain yaa…